Kawan-kawan pembaca,MEMASUKI TAHUN 2008 sejumlah peristiwa penting terjadi disekitar kita. Dipenghujung 2007, di Bali, sejumlah orang yang concern dengan perubahan iklim berkumpul dalam United Nations Climate Change Conference. Sayangnya, negara-negara industri maju masih belum menunjukkan komitmen menghadapi perubahan iklim yang semakin ekstrim. Sejumlah aktivis lingkungan dari
Memasuki Januari, sejumlah bencana alam kembali melanda
Perhatian media
Debat publik dan pro kontra bermunculan di mana-mana. Sejumlah orang yang dulu ”menderita” dibawah rezim Orba, menolak pemberiaan maaf itu. Bagi kelompok ini, pembantaian 2 juta orang Indonesia di tahun 1965-1966 tidak bisa diabaikan begitu saja . Hmmm..
***
Dalam kesempatan ini, team editorial mempublikasikan dua artikel yang ditulis Firman Hamidi. Artikel pertama Firman, menggangkat issu alokasi dana pendidikan. Melalui artikel ini Firman mencoba membuka mata kita bahwa kebijakan elite negara belum berpihak kepada rakyat. Pendidikan yang seharusnya bisa ”difasilitasi” secara maksimal, tapi di Indonesia itu tidak terjadi. Elite negara lebih mengutamakan sektor yang lain.
Dalam kasus yang sama, kita bisa melakukan perbandingan dengan Cuba misalnya. Di negara Fidel Castro itu pendidikan disediakan dengan gratis. Mari kita simak artikel Hariadi Sudjono, mantan duta besar RI untuk Cuba (untuk artikel lengkapnya klik : disini). Dalam artikel itu, Sudjono menggambarkan Cuba dengan utuh. Dia menceritakan keadaan yang berbeda dari yang biasa kita dengar tentangan negara sosialis itu.
"Di bawah pemerintahan Castro, pembangunan nasionalnya dititikberatkan pada pemeliharaan kesehatan dan pendidikan. Dua hal yang merupakan kebutuhan mendasar rakyat di negeri itu. Hasilnya, penyediaan dan peningkatan fasilitas kesehatan dan pendidikan terus maju sehingga keduanya merupakan fasilitas gratis bagi semua rakyat Kuba (hanya orang asing yang dikenai pembayaran). Namun, rakyat Kuba yang tak dikenai pembayaran mendapat perlakuan yang sama baiknya dengan orang asing yang membayar mahal.”
Kembali pada artikel yang ditulis Firman. Apa yang terjadi di Indonesia adalah kebalikan dari Cuba. Di Indonesia, watak elite negara belum berorientasi sebagai public servant (pelayan masyarakat). Elite negara masih berlaku sebagai penguasa yang harus dilayani. Maka tidak mengherankan jika kebijakan elite pun jauh dari rakyat. Untuk membaca artikel firman silahkan klik : disini.
Artikel ke dua Firman bertutur tentang penguasaan asing terhadap aset Indonesia. Artikel sederhana ini cukup mengelitik untuk dibaca. Artikel Firman “menampar” kesadaran intelektul tentang kepemilikan kita terhadap bangsa dan negara ini. Firman mau mengatakan,” Kalau rumah kita sudah punya orang lain, buat apa kita mengaku sebagai sebuah bangsa.”
Ada yang menarik ketika final Asian Idol di gelar di Jakarta beberapa waktu lalu. Hady Mirza, Idol asal Singapura muncul menjadi pemenang. Pada hal sejumlah juri, tidak menjagokan Hady Mirza. Tapi karena model penilaian berdasarkan jumlah sort massage service (sms). Apa boleh buat, Mike asal Indonesia yang dijagokan banyak orang harus mengaku kalah kepada Hady Mirza.
Sejumlah spekulasi segera bermunculan. Kemenangan Hardy dihubungkan dengan Temasek corp., perusahaan telekomunikasi asal singapura, yang menguasai sejumlah perusahaan sejenis di Indonesia. Ada dugaan, Temasek memborong semua sms untuk mendongkrak kemenangan kontestan asal Singapura itu. Sepertinya Temasek tidak rela Singapura kalah di Indonesia.
Walau Firman tidak menulis tentang Hardy Mirza dan Temasek Inc., namun artikel “Bangsa Ini Punya Siapa?” layak untuk dibaca dan diberikan apresiasi (untuk lebih lengkap klik : disini).
Akhirnya, kami mempersilahkan kawan-kawan semua memberikan penilaian akhir untuk kedua artikel itu. Terima kasih untuk Firman Hamidi yang dari jauh dari yogyakarta, telah meluangkan waktunya untuk menulis kedua artikel diatas.
Dari belahan pulau yang berbeda, saya mewakili team editoral CEFIL 19 mengucapkan selamat membaca. Semoga bermanfaat..
Jabat Erat,
EDITOR
www.cefil19.co.cc
http://cefil19.blogspot.com
19cefil@gmail.com


